Benarkah Sarden Bagus untuk Kulit Kamu?
Kami tanya para dermatolog apakah trik makan sarden ala Anok Yai memang rahasia di balik kulitnya yang super glowing.
Di backstage Victoria’s Secret Fashion Show pada Oktober lalu, Anok Yaimengungkapkan kepada Hypebae bahwa makan sarden adalah rahasia kulitnya yang glowing. Sejak itu, tren sarden pun meroket — bukan hanya sebagai aksesori ala “cool girl” dan tren kuliner yang lagi hype, tetapi juga sebagai skincareandalan para beauty enthusiast. Namun, apakah semua ini hanya spekulasi internet atau camilan asin ini benar-benar punya manfaat untuk kulit?
Meski Anok Yai dan para pencinta setia sarden bersumpah ikan ini benar-benar memperbaiki kesehatan kulit, para dermatolog masih terbagi dua. Bagi skin guru langganan selebriti Dr. Jodi Logerfo, minimnya riset medis justru membuatnya kian skeptis. “Sayangnya, belum ada bukti langsung bahwa mengonsumsi sarden memberi manfaat yang jelas bagi kesehatan kulit atau secara spesifik memperbaiki kondisi kulit apa pun,” ujar Dr. Logerfo kepada Hypebae. “Manfaat nyata dari sarden adalah fakta bahwa mereka terbukti menjadi sumber asam lemak omega-3 yang sangat baik.”
@hypebae Penjualan sarden setelah @Victoria’s Secret 📈 #AnokYaitetap menjaga glow-nya on point hanya dengan sedikit ikan kaleng 🐟 Video: Hypebae #vsfashionshow #vsangel #victoriassecret #beautytok ♬ original sound – HYPEBAE
Sebaliknya, Dr. Geeta Yadav, dermatolog bersertifikat sekaligus pendiri FACET Dermatology, justru melihat sebaliknya — meski mengakui belum ada uji klinis, ia tetap yakin manfaatnya tak terbantahkan, “Asam lemak omega-3 membantu tubuh memproduksi lebih banyak ceramide, lemak yang menjaga skin barrier tetap kuat sekaligus meredakan inflamasi. Vitamin D mendukung pertumbuhan dan perbaikan sel kulit, dan protein sangat penting untuk produksi kolagen. Jadi, versi jujurnya: kandungan utama dalam sarden punya manfaat kulit yang signifikan dan didukung bukti ilmiah.”
Di saat yang sama, Dr. Yadav menegaskan bahwa sarden tidak boleh dianggap sebagai solusi tunggal untuk masalah kulit — apalagi karena hasilnya sering kali baru terlihat setelah berbulan-bulan. “Sarden adalah strategi pendukung, bukan rencana perawatan utama. Internet memang gemar mengangkat narasi satu bahan ajaib, tapi sains menempatkan sarden sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar,” ujarnya. Sejalan dengan itu, dermatolog bersertifikat Dr. Marisa Garshick, menegaskan bahwa kulit sehat pada dasarnya adalah hasil dari rutinitas perawatan yang menyeluruh.
Karena itu, Dr. Garshick mengatakan kepada Hypebae bahwa menjaga rutinitas skincare yang konsisten jauh lebih efektif daripada mengandalkan sarden untuk melakukan semua pekerjaan. “Sebaiknya kita memandangnya sebagai salah satu komponen dari pola makan seimbang, bukan solusi ajaib. Meski pola makan dan apa yang dikonsumsi bisa menjadi bagian dari rutinitas kulit sehat, tetap penting untuk mengombinasikannya dengan regimen topikal yang bisa langsung menyasar kulit,” jelas sang dermatolog. Jadi, meski jelas bukan solusi ajaib, para ahli mengatakan bahwa memasukkan sarden ke dalam rutinitas keseharianmu bisa saja memberi kulit dorongan ekstra yang dibutuhkan — contohnya saja Anok Yai.



















