Kenapa Aku Tak Akan Pernah Pakai Brow Gel Lain Selain Glossier Boy Brow
Surat cinta untuk gel alis kult favorit.
Di setiap fase alis yang pernah kulalui — tebal, tipis, di-bleach, dan apa pun di antaranya — Glossier Boy Brow tetap jadi andalan di rotasiku. Faktanya, aku sudah jatuh hati sejak gel alis ini pertama kali rilis pada 2015 — dan sampai sekarang, belum ada satu pun produk alis yang mampu menandinginya.
Saat Glossier debut 11 tahun lalu, lini produknya jauh lebih sederhana dibanding sekarang. Meski Boy Brow bukan bagian dari kurasi awal merek tersebut, produk ini termasuk satu dari sedikit item, bersama balm dan skin tint, yang masih dicintai hingga kini sama seperti dulu. Bagi banyak penggemar kecantikan Gen Z, Boy Brow adalah produk alis pertama mereka. Namun, buatku, inilah satu-satunya produk alis yang tak bisa kutinggalkan.
Yang Perlu Kamu Tahu tentang Boy Brow dari Glossier
Terbaik untuk: Alis fluffy dalam sekejap
Harga: $22 USD di situs resmi brand
Rating: 10/10
Kenapa Jadi Hype?
Terinspirasi dari pomade kumis, Boy Brow lentur dan nyaman di alis — tak seperti banyak gel lain yang terasa berat dan kaku. Di saat bersamaan, ia menjaga helai-helai alis tetap pada tempatnya selama berjam-jam tanpa rontok jadi serpihan. Berkat konsistensi ala pomade, Boy Brow memberi efek fluffy pada alis sambil membentuk dan mendefinisikannya dengan mulus.
Cara Pakai
Berkat sikat spoolie yang ukurannya pas, Boy Brow sangat mudah diaplikasikan. Pertama, aku menghapus kelebihan produk di ujung wand, karena kalau tidak hati-hati, bisa menggumpal di alis. Setelah itu, aku cukup menyisir alis agar gel tersebar merata. Tergantung tampilan yang kamu inginkan, kamu bisa menyisir alis ke atas untuk tampilan bushy ala soap brow, atau mengikuti bentuk alami alis untuk hasil yang lebih natural.
Aku memakai Boy Brow sebagai langkah terakhir dalam rutinitas alis. Artinya, setelah mengisi alis dengan powder, aku menuntaskannya dengan produk ini untuk mengunci semuanya. Tapi, kalau kamu lebih suka alis yang natural, Boy Brow juga bisa dipakai sendiri. Sebagai bonus, Glossier telah memperluas varian menjadi tujuh shade — dari Black untuk si rambut gelap, hingga Clear untuk para minimalis.
Ulasan Jujur
Walau aku sempat coba-coba produk alis lain, belum ada gel yang rasa dan hasilnya sebaik Boy Brow. Saat gel alis lain bisa terasa mengintimidasi, Boy Brow hampir tak pernah mengecewakan. Ia melapisi alisku hanya dengan satu sapuan dan, sebagai seseorang dengan alis yang cukup jarang, ini wajib untuk tampilan alis penuh. Syukurlah, formulanya konsisten di semua shade — aku pernah memakai Black, Clear, Dark Brown, dan Blonde, dan tak melihat perbedaan tekstur maupun daya tahannya. Satu tube pun terasa awet sebelum akhirnya aku harus beli ulang.
Lebih dari itu, Boy Brow bukan sekadar clean girl, andalan no-makeup makeup — cukup serbaguna untuk melengkapi gaya makeup apa pun dan bentuk alis apa pun. Dari pengamatanku, produk alis lain biasanya cenderung memihak estetika kecantikan tertentu atau tingkat keahlian tertentu, sedangkan Boy Brow benar-benar one-size-fits-all. Ia cukup simpel untuk ramah pemula, namun juga efektif dipasangkan dengan glam paling kompleks.
Kesimpulan Akhir
Entah kamu pemula yang belum punya rutinitas alis low-maintenance atau pro yang sedang mencari holy grail, kamu tak akan salah pilih dengan Boy Brow. Formulanya nyaman dan intuitif, tanpa mengorbankan daya tahannya. Pernah sih aku sempat berpaling dan bereksperimen dengan gel alis lain, tapi cepat kusadari tak ada yang sebanding dengan Boy Brow. Apa pun bentuk atau warna alisku, aku selalu bisa mengandalkan Boy Brow untuk menghadirkan alis yang fluffy dan terdefinisi — dan tumpukan empties jadi buktinya.
Selagi di sini, baca juga tentang lini skincare terbaru Dua Lipa.








