Lewat peragaan busana bergaya seni pertunjukan di V&A Museum yang menempatkan inklusivitas sebagai sorotan utama.
Pada Jumat siang, Sinéad O’Dwyer menyulap Victoria & Albert Museum di London menjadi panggung dramatis untuk koleksi terbarunya, “Notice Me”—dan memang berhasil mencuri perhatian. Ditampilkan במסגרת seri ternama Fashion in Motion di museum tersebut, presentasi ini berlangsung di bawah lukisan-lukisan Raphael yang menjulang, bak mimpi Renaisans, lengkap dengan tubuh-tubuh menari dalam busana yang membalut lekuk tubuh.
Berangkat dari Knead, karya gerak berkoreografi yang dikembangkan O’Dwyer bersama Grace Nicol untuk Barbican pada 2025, koleksi ini merayakan fisikalitas dalam segala wujudnya. Para model melintasi runway, sesekali membawakan koreografi yang memikat, sebelum kemudian diiringi penampilan langsung dari band rock Jeanie and The White Boys. Ini merupakan pengalaman multisensori yang menghidupkan busana lewat gestur dan ritme.
Secara visual, “Notice Me” menyeimbangkan presisi teknis dan keintiman emosional. Cetakan tangan neon bernuansa hangat, yang diabadikan fotografer Ottilie Landmark, tampak di balik payet cair berkilau, menciptakan permukaan yang seakan berdenyut mengikuti gerak. Di sisi lain, ritsleting yang dipoles dan kancing mengilap mengisyaratkan busana yang terus berada dalam proses dikancingkan dan dilepaskan. Kolaborasi O’Dwyer dengan desainer alas kaki Tabitha Ringwood pun berlanjut lewat ghillies yang ditafsirkan ulang menjadi mules bertumit dengan siluet skulptural.
Seperti biasa, keahlian craftsmanship menjadi inti koleksi ini. Gaun nilon teknis, setelan berpotongan tegas, dan siluet pengantin yang dramatis memperlihatkan inovasi O’Dwyer dalam teknik potong pola dan konstruksi. Namun, fokusnya tetap tertuju pada pemakai. Alih-alih menciptakan busana untuk satu kesempatan tertentu, “Notice Me” menawarkan pakaian yang mampu beradaptasi untuk setiap momen dan setiap tubuh—baik saat berjalan menuju altar, tampil di panggung, maupun menari hingga matahari terbit. Koleksi ini menjadi pengingat kuat bahwa karya O’Dwyer tak pernah semata-mata tentang mode, melainkan perayaan atas tubuh, gerak, dan kebebasan untuk terlihat.
Simak beberapa tampilannya di atas, lalu kunjungi situs web brand tersebut untuk melihat lebih banyak.
“Memahami hidup, pergulatan, kontradiksi, trauma, dan konteks seorang seniman bisa bikin kita makin nyambung sama karyanya.” Tapi, batasnya sampai di mana?
Women’s Africa Cup of Nations adalah turnamen sepak bola wanita yang selama ini kurang mendapat sorotan. Kami hadir untuk memastikan kamu selalu update menjelang kick-off tahun ini.