Kenapa Sih Masih Banyak yang Nggak Paham Maunya Fans Olahraga Perempuan?
Setelah gagalnya Sky Sports Halo dan berbagai upaya kurang berhasil buat menarik perhatian anak muda, akankah brand akhirnya paham apa yang sebenarnya dicari perempuan dari konten olahraga tahun ini?
Beberapa tahun terakhir ini menjadi periode yang sangat monumental bagi olahraga perempuan. Basket dan sepak bola kian melonjak popularitasnya dalam tempo luar biasa, para atlet akhirnya mulai diakui secara global atas kerja keras mereka, dan liga-liga seperti WSL, WNBA dan NWSL telah mencapai bobot kultural yang 10 tahun lalu saja sulit dibayangkan. Penonton utama olahraga perempuan sejak dulu adalah perempuan, dan meski itu masih berlaku, industri ini kini berada di persimpangan jalan – berupaya merangkul basis penggemar yang mayoritas perempuan sekaligus mendorong kelompok demografis lain untuk terlibat secara autentik.
Bagi liga-liga besar dan berbagai platform, pergeseran budaya ini jauh lebih mudah diucapkan ketimbang diwujudkan. Nyaris tak pernah ada keseimbangan yang pas antara menggandeng penonton baru dan tetap menjaga kebahagiaan basis fans inti. Bandulnya selalu terayun terlalu jauh ke satu sisi, memicu momen sosial yang canggung dan inisiatif yang gagal mengena seperti yang diharapkan.
Ketika berbicara soal membangun ekosistem di sekitar para perempuan yang justru telah membesarkan basis fans ini dan setia memenuhi stadion serta arena minggu demi minggu, ketidakpahaman mayoritas perusahaan, klub, dan liga menjadi sangat kentara. Ada jarak lebar antara apa yang para penggemar olahraga perempuan sebenarnya cari dari konten dan pengalaman hari pertandingan mereka, dan apa yang orang-orang di ruang rapat pikir mereka inginkan.
Kadang semua ini terasa seperti upaya menginfantilisasi perempuan di dunia olahraga. Di waktu lain, tampak jelas ketidakpekaan korporat yang lebih mengejar keuntungan instan ketimbang peduli substansi. Lalu, mengapa seolah tak ada yang benar-benar memahami apa yang dicari para fans ini? Kalau Anda menyimak percakapan online dan berinteraksi dengan fans Arsenal Women, Las Vegas Aces atau San Diego Wave, makin jelas terlihat apa yang mereka inginkan – agar olahraga dan tim favorit mereka diperlakukan sama persis dengan versi laki-lakinya.
Saat Sky Sports meluncurkan platform Halo, akun ini dipasarkan sebagai akun media sosial andalan baru untuk perempuan – “adik kecil” Sky Sports, tepatnya. Bisa dibilang peluncurannya berujung antiklimaks, karena ditutup hanya dalam tiga hari. Disengaja atau tidak, TikTok Halo justru menelanjangi bagaimana Sky dan banyak perusahaan lain sebenarnya memandang perempuan yang gemar olahraga. Alih-alih informatif dan engaging seperti konten media sosial Sky Sports pada umumnya, akun ini berubah menjadi olok-olok misoginis terhadap perempuan dengan branding gradasi warna peach dan pink yang sangat stereotip.
Dengan memungut secara acak jargon dan tren Gen Z dari TikTok, Halo lebih mirip rangkaian serampangan berisi “joke” dan meme yang bahkan seharusnya tetap tersangkut di draft akun fans olahraga kasual. Padahal ada peluang emas untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar unik bagi penggemar olahraga perempuan, apalagi mereka jelas menargetkan sepak bola perempuan sebagai pilar masa depan. Alih-alih, yang terjadi adalah kegagalan besar yang ingin dilupakan banyak orang.
Hanya beberapa minggu kemudian, ketika hiruk-pikuk soal Halo mulai mereda, TikTok kembali menjadi panggung kekacauan lain di sepak bola perempuan. Entah mengapa, undian Women’s League Cup digelar lewat TikTok Live dan dipandu influencer GK Barry bersama kekasihnya, pemain Portsmouth, Ella Rutherford. Meski gurauan dan komentar jenaka adalah bagian lumrah dari acara undian, proses ini seharusnya tetap diperlakukan serius tanpa ruang untuk kecurangan atau kontroversi apa pun yang bisa mencoreng kompetisi secara keseluruhan. Yang terjadi justru sebaliknya: undian League Cup ternoda oleh selentingan bernuansa seksual, lelucon kasar tentang Tottenham Hotspur, serta momen ketika sebuah bola dijatuhkan kembali ke dalam kantong sebelum diambil lagi.
Jelas Barry tidak benar-benar paham apa yang diharapkan darinya, atau bahkan apa peran yang seharusnya ia jalankan. Meski sebagian kesalahan ada padanya, pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menganggap konsep ini ide bagus, dan mengapa keduanya tidak dibekali pengarahan soal hal-hal mendasar dan batas perilaku yang pantas? Kalau ini adalah undian League Cup putra, mungkinkah format seperti ini lolos dari tahap perencanaan?
Brand, liga, dan platform berulang kali menjual misi ingin menjangkau Gen Z, namun “pergeseran ke arah tidak profesional” seperti ini nyaris tak pernah terjadi di olahraga putra ketika targetnya adalah generasi muda.
Ada keyakinan luas bahwa olahraga putra dan perempuan adalah dua entitas yang sama sekali berbeda dan tak bisa diperlakukan dengan pendekatan yang sama. Keyakinan itu melahirkan anggapan bahwa olahraga perempuan terasa asing bagi platform besar seperti Sky, sehingga muncul ide bahwa diperlukan kanal media “adik kecil” alih-alih mengintegrasikan konten khusus perempuan ke dalam produksi mereka sehari-hari. Di 2026, sudah waktunya melepaskan cara pandang seperti itu.
Satu tahun besar bagi olahraga perempuan sudah menanti di depan mata. Dua tim baru WNBA akan debut musim ini, NWSL lebih besar dari sebelumnya, Women’s Africa Cup of Nations kembali digelar di Maroko, dan hampir semua cabang olahraga tengah tumbuh seraya menarik penonton baru. Pertumbuhan liga-liga ini, terutama yang lebih muda seperti Professional Women’s Hockey League, sangat bergantung pada dukungan media dan orang-orang di balik platform tersebut. Jika para pengambil keputusan masih memandang olahraga perempuan sebagai anomali atau anak tangga di bawah olahraga putra, laju pertumbuhan ini akan terus mandek. Sudah saatnya para penggemar olahraga perempuan mendapat perlakuan – dan konten – yang benar-benar layak mereka dapatkan, dan 2026 adalah momentum sempurna untuk mengawal pergeseran itu menjadi kenyataan.



















