20 Coffee Table Book Keren untuk Dijadikan Kado Akhir Tahun
Dari ‘Julie Bullard’ karya Nadia Lee Cohen dan Martin Parr sampai buku tur ‘Guts World Tour’ milik Olivia Rodrigo.
Di era digital sekarang, banyak dari kita lebih sering mengonsumsi konten lewat newsletter Substack, artikel online, atau audiobook — dan jarang punya waktu atau energi untuk menuntaskan satu buku. Tapi untuk para pencinta buku sejati di luar sana, kami melihat kamu. Tak ada yang menandingi sensasi membalik halaman yang masih kaku, aroma buku yang baru dibuka, atau pesona hardcover cantik yang sama indahnya untuk dilihat dan digenggam.
Coffee table book itu jauh lebih dari sekadar pajangan; membacanya juga sebuah kenikmatan. Dari fotografi yang memukau dan karya seni hingga fashion yang tak lekang waktu, coffee table book bukan cuma mengisi ruang; tapi juga memantik obrolan.
Dari sampul pink yang jadi favorit banyak orang seperti Sofia Coppola’s Archive dan Simone Rocha’s photobook hingga visual storytelling menawan dari sosok yang tengah jadi obsesi dunia fashion, Nadia Lee Cohen, inilah 20 coffee table book yang siap kamu jadikan kado untuk teman—atau untuk diri sendiri.
Scroll terus untuk lihat daftar lengkapnya.
Julie Bullard: Nadia Lee Cohen & Martin Parr
IDEA merilis kolaborasi yang sangat mengesankan antara fotografer favorit dunia fashion Nadia Lee Cohen dan jurnalis foto dokumenter Martin Parr. Buku ini menampilkan momen langka Cohen yang kali ini justru berdiri di depan lensa. Diabadikan oleh Parr dalam serangkaian skenario yang khas, proyek ini mengubah Cohen menjadi pengasuh masa kecilnya yang tak terduga jadi sumber inspirasi, bernama Julie Bullard. Didesain ulang ala album foto era ’70-an, buku ini hadir dengan sampul papan kulit sintetis dan penjilidan logam emas bergaya vintage, menyamar seperti kapsul waktu old-school. Difoto dengan gaya dokumenter khas Parr, “album keluarga fiksi” ini memuat lebih dari 100 foto, termasuk potret Cohen dengan prostetik.
Jean Paul Gaultier Catwalk
Thames & Hudson menerbitkan rangkuman perdana yang menyeluruh tentang koleksi womenswear Jean Paul Gaultier dengan akses tak tertandingi ke arsip House dan dikerjakan bersama Gaultier sendiri. Ini adalah coffee table book yang siap mengungguli semua coffee table book lain. Dari “Biker of the Opera,” show debutnya tahun 1976, hingga koleksi pamungkasnya di 2020, buku ini adalah ultimate collectors’ item bagi para penggemar brand tersebut. Publikasi ini memuat sejarah House, profil biografis Gaultier, dan eksplorasi kronologis seluruh koleksinya. Foto-fotonya menghadirkan insight unik ke desain set, busana, detail, riasan, dan para model mulai dari Linda Evangelista dan Kate Moss hingga Gigi dan Bella Hadid. Jika kamu mencari hadiah paling tepat untuk pencinta fashion, atau butuh alasan baru untuk jatuh cinta lagi pada Jean Paul Gaultier, inilah bukunya.
From Somerset to the World: Clarks A Visual History 1825-2024
Clarks merayakan tonggak ulang tahun besarnya dengan sebuah coffee table book untuk para pencinta sepatu. Merayakan 200 tahun membentuk style dan kultur, dari ruang kelas British hingga pop culture, ke dunia Jamaican dancehall dan panggung hip hop New York — inilah perayaan pamungkas. Buku ini adalah proyek kaya ilustrasi yang mengisahkan perjalanan brand tersebut dari keluarga Quaker sederhana di pedesaan Inggris hingga menjadi fenomena global dua abad kemudian. Jauh lebih dari sekadar Wallabees favoritmu, pengaruh dan sejarah brand ini adalah harta karun yang menunggu dijelajahi. Penulis dan desainer Alexander Newman menyebutnya, “sebuah testimoni atas salah satu great British brands, yang menyorot sisi-sisi sejarah Clarks yang jarang terekspos.”
JABON: Magic Soaps of Mexico
Visual storytelling yang berani, keindahan yang visceral, dan nuansa sihir berpadu dalam photobook, yang memadukan fotografi dengan warna super-saturated dan desain grafis berwarna terang, diterbitkan oleh creative agency The Midnight Club. Visualnya difoto oleh Maisie Cousins dan dihidupkan di halaman-halaman buku lewat bahasa desain grafis eklektik karya Stephanie McArdle. Buku ini mendokumentasikan 20 ritual sabun dengan kemasan bernuansa nostalgia, difoto di pasar sihir Mexico, masing-masing menjanjikan kekuatan berbeda, dari cinta, keberuntungan hingga penyembuhan. Ini bukan fotografi dokumenter, melainkan perjalanan imersif menyusuri folklor, religi, dan kerusakan.
From Louis to Vuitton
Louis Vuitton menghadirkan sudut pandang baru ke dalam semesta LV lewat buku ini. Diterbitkan oleh Assouline dan ditulis oleh Arthur Dreyfus, buku ini dilengkapi kata pengantar dari Pietro Beccari, Presiden dan CEO Louis Vuitton saat ini. Isinya mengulas tradisi, kreasi, dan kontribusi para Artistic Director, juga insight tentang workshop Asnières dan sang pendiri House yang meninggalkan rumah di usia 14 tahun menuju Paris, tempat sang OG pembuat koper menjelma jadi label kelas dunia seperti sekarang. Publikasi ini dikemas dalam case bergaya Damier dengan sampul kuning terang yang mereferensikan saddle stitch, menjadikannya tambahan yang sempurna untuk coffee table kamu.
Guts World Tour Book
Olivia Rodrigo‘s Guts World Tour dirayakan lewat edisi buku ini. Hardcover setebal 136 halaman ini menampilkan momen terbaik tur dan berbagai fan essentials, mulai dari kartu trading eksklusif, poster dua sisi, hingga lembar stiker. Buku ini memberi kamu kesempatan mengintip di balik tirai gemerlap showbiz.
Air Jordan
Bekerja sama dengan Michael Jordan, Assouline memberi penghormatan pada legenda basket dan dampaknya yang tak pernah pudar pada dunia sneakers lewat sebuah buku baru yang mengisahkan empat dekade terakhir Jordan Brand.Air Jordan mengupas desain, inovasi, dan pengaruh kultural sepatu ini, dari logo yang dikenal di seluruh dunia hingga siluet timeless yang membuat Jordans jadi salah satu sneakers paling diburu di jajaran koleksi Nike’s. Tak lengkap sebuah buku Assouline tanpa visual spektakuler, jadi di sampulnya ada foto Jordan yang belum pernah dipublikasikan, dijepret oleh Annie Leibovitz dan merefleksikan pose logo Air Jordan yang kini ikonis.
MAKiNG iT
Los Angeles -based photographer Bootsy Holler membingkai skena rock ’90-an dalam bentuk cetak lewat buku terbarunya, “MAKiNG iT.” Mendokumentasikan skena Seattle indie, punk, dan rock dari 1992 hingga 2008, kapsul waktu fotografi ini menampilkan setiap sudutnya. Berfokus pada band-band kurang dikenal yang kemudian mendefinisikan satu dekade dalam sejarah musik, beberapa nama yang muncul antara lain Macklemore, Pearl Jam dan Yeah Yeah Yeahs. Tarian penuh keringat, dentuman musik, dan energi para asing yang menyatu terasa hidup di setiap halaman, membangkitkan nostalgia bahkan bagi mereka yang tak pernah mengalaminya langsung. Ini adalah hadiah paling tepat untuk the cool girl.
America’s Sweethearts: Dallas Cowboys Cheerleaders
The Dallas Cowboys Cheerleaders (DCC) telah menjelma fenomena budaya, dengan rompi cropped, aksi mereka di stadion, dan kisah sisterhood yang diikuti ribuan orang lewat Netflix docuseries mereka. Di balik sorotan lampu, ada latihan keras, ambisi, dan dedikasi untuk mengangkat komunitas. Buku ini menelusuri evolusi gaya signature mereka sambil menyorot para perempuan yang membangun legacy itu di dalam maupun di luar lapangan. Entah kamu penggemar football, dance atau sekadar ingin sedikit nuansa Texas yang seru, edisi ini adalah tribut untuk para perempuan yang ikut membentuk wajah cheerleading modern.
Chic Dogs
Kalau kamu sangat sayang pada anjing kesayanganmu dan sama besarnya jatuh cinta pada fashion, buku ini wajib kamu punya.Chic Dogs mengabadikan para sahabat berbulu paling fabulous di dunia fashion dalam perjalanan waktu yang whimsical, menyorot bintang-bintang gaya dan kultur dari masa ke masa. Sahabat berkaki empat ini jauh lebih dari sekadar peliharaan; mereka adalah karakter sejati yang merayakan elegansi dan selebritas. Dari Coco Chanel hingga Queen Elizabeth, buku ini memotret beberapa hubungan paling ikonis antara selebriti dan anjing kesayangan mereka.
Dior Metamorphosis
Dior Metamorphosis, yang diterbitkan oleh Rizzoli, mengisahkan transformasi markas legendaris Dior di Paris, yang legendaris di 30 Avenue Montaigne, melalui sudut pandang fotografer Robert Polidori. Judul ini mengundang kita ke sesi private viewing yang mengintip rahasia jantung Maison di ibu kota Prancis, lengkap dengan gambar-gambar unik yang berkilau cahaya dan keindahan. Model-model ikonis Dior, seperti Barsuit yang esensial, juga dihadirkan dalam dekor yang begitu khas ini.
Sofia Coppola Archive
Sofia Coppola jelas sedang ada di puncak momennya, dengan Priscilla yang jadi acuan tahun serba girly di 2024.Archive adalah buku pertama Sofia Coppola, yang memberi kita intipan ke perjalanan karier filmnya. Penuh dengan foto pribadi, sketsa awal, kolase referensi, dan naskah dengan catatan tangannya, buku ini mengupas delapan filmnya sejauh ini, lengkap dengan momen behind-the-scenes eksklusif.
Mouth Full Of Golds
Mouth Full Of Golds, yang ditulis oleh sutradara Lyle Lindgren dan Eddie Plein, adalah buku yang merayakan seni caps, fronts, slugs, grills, diamonds, dan pearls. Hardcover ini menyajikan sejarah ilustratif tentang New York’s “Famous” Eddie Plein, era keemasan dunia gigi yang ia pelopori, dan senyum besar berkilau yang ia tinggalkan di wajah hip hop. Buku ini juga memuat kata-kata dari A$AP Ferg, Va$htie, Goldie, A$AP Rocky, Just-Ice, Janette Beckman dan Marc Jacobs.
Hokusai
Di usia enam tahun, Hokusai sudah melukis gambar pertamanya. Setahun setelah ia meninggal di usia 89, desain buku ilustrasinya diterbitkan secara anumerta.TASCHEN edisi terbaru karya-karyanya, menyusul rilisan 2022, menyertakan teks dari sejarawan seni Andreas Marks yang mengulas pengaruh Hokusai pada seniman Barat seperti Degas dan Gauguin. Dengan reproduksi berukuran besar dan empat halaman lipat, edisi ini memadukan riset mendalam dengan perayaan visual atas periode Edo di Jepang.
Juergen Teller: i need to live
Juergen Teller: i need to live merangkum pameran tunggal terbesar Teller di Paris‘ Grand Palais Éphémère dan Milan‘s Triennale Milano. Buku ini menunjukkan keluasan karya fotonya, dari potret dan lanskap hingga nude dan still life, menangkap refleksi Teller tentang hidup, diri, dan kehilangan (terutama kepergian kolaborator dekat seperti Vivienne Westwood.) Selain tampil dramatis di coffee table dan menunjukkan selera seni kamu, buku ini juga akan sama mengesankannya jika dipajang di bookstand—sepotong karya Juergen Teller yang siap dipamerkan setiap kali tamu datang.
Simone Rocha
Simone Rocha dikenal sebagai desainer brilian, tapi ia juga pembuat buku yang penuh pertimbangan, dengan koleksi zine yang mengesankan. Monograf terbarunya, Simone Rocha, digarap dengan sangat teliti, memuat foto catwalk, editorial bernuansa moody, dan momen backstage yang menangkap dunia rumit khasnya. Buku ini wajib dimiliki pencinta fashion dan bergabung dengan jajaran penulis bintang Rizzoli seperti Ann Demeulemeester, Rick Owens dan Maison Martin Margiela.
Petra Collins: Coming of Age
Kita semua kenal dan jatuh cinta pada Petra Collins lewat gaya fotografi dreamy-nya, jadi tak heran jika monograf pertamanya terasa seperti wujud nyata dari semesta unik yang ia bangun.Petra Collins: Coming of Age adalah tribut memukau pada masa remaja perempuan, kepolosan, seksualitas, dan kebebasan. Lewat foto-foto signature, esai personal, Polaroid dan kontribusi dari para perempuan inspiratif, Collins membagikan kekuatan tenang yang menggerakkan karyanya. Buku ini menyorot karyanya untuk kampanye Gucci dan Adidas, film-film untuk Tate, hingga begitu banyak editorial. Ini adalah testimoni atas kreativitasnya dan wajib dimiliki para penggemar estetika berani yang gemar mendobrak batas.
Yoshitomo Nara
Yoshitomo Nara karya Yeewan Koon adalah buku definitif tentang kehidupan dan karier seniman Jepang yang diakui secara internasional ini. Monograf yang benar-benar otoritatif, dibuat dalam kolaborasi erat dengan Nara sendiri, mengulas lebih dari tiga dekade karyanya, lengkap dengan teks dari sang seniman dan menampilkan lukisan, gambar, patung, serta keramik terbarunya.
Nora Ephron At The Movies
Nora Ephron at the Movies adalah eksplorasi ilustratif pertama yang mengupas dalam kehidupan dan karya Nora Ephron, mastermind di balik rom-com klasik seperti When Harry Met Sally, You’ve Got Mail dan Sleepless in Seattle. Buku ini memadukan kritik tajam dengan wawancara eksklusif bersama para kolaborator, termasuk aktris Andie MacDowell, dan mengeksplorasi Ephron sebagai ikon rom-com sekaligus pelopor feminisme. Pas banget untuk kamu seliwer-seliwer baca sambil meringkuk di dekat api, memegang cokelat panas, dan tentu saja memutar film Nora Ephron di latar.
Aries Arise Archive
Mencakup hampir 400 halaman, Aries Arise Archive adalah buku retrospektif yang benar-benar unik tentang perjalanan Aries‘ selama satu dekade terakhir, menampilkan kolaborasi, fotografi, grafis, komunitas, dan desain signature mereka. Dirancang dengan saksama oleh Johnny Lu, publikasi ini adalah pesta visual yang dicetak di atas kertas premium Munken dan sarat dengan esensi khas sang brand.
Untuk ide hadiah lainnya, baca rekomendasi kado terbaik untuk pencinta fashion (dengan highlight tren terbesar 2025).














